Posted by: whitepuzzle on: November 21, 2010
Jogja Cinta Tanpa Akhir – Katon Bagaskara
Membekas….jejakku di pantai berpasir
deru Parangtritis memanggil
Sekian lama, merebut hidup tanpa akhir
saatnya kumanja nurani
Ada haru di sela ombakmu,
gamelan lirih melenakan kalbu
termanguku di situ
Asyik terpukau, lalu-lalang orang di jalan
ramai sepeda beriringan
Senyum menawan wajah ramah memberi salam
hati terhanyut damai tenteram
Anggun gemulai sang dewi penari
bawa legenda putri di tamansari
betapa mesranya, budaya menyapa
Reff.
Janganlah dulu, waktu berlalu
biar kureguk pesonamu
Lalu melepas beban di dada
kala susuri kota
Setiap waktu kini berpadu
pada kenangan tak berlalu
segenap rasa.. dariku t’rus mengalir
cinta tanpa akhir
untuk Jogja
Kutitip rindu di bangunan tua….
romansa Jawa membuai tak terasa
betapa lugunya, budaya menyapa
Lagi di atas adalah salah satu lagu Katon Bagaskara yang mengisahkan tentang Yogyakarta. Saya lebih suka lagu yang satu ini dibandingkan dengan lagu Katon terdahulu : Yogyakarta. Di lagu ini, suasana rindu dan ‘ndeso’nya Jogja lebih kerasa, dipadu dengan gamelan dan sinden sebagai bekgron–loh,malah ngomenin lagunya.
Janganlah dulu, waktu berlalu
biar kureguk pesonamu
Saya orang Jogja asli, lahir di kabupaten Sleman rumah sakit Panti Rapih. Dari lahir sampai awal SMP tinggal di Blunyah Rejo kecamatan Jetis, satu wilayah dengan The White Pole atau Tugu Putih Jogja (lebih terkenal dengan Tugu Jogja aja). Dari SMP hingga usia 20an ini saya tinggal di kabupaten Sleman, Jalan Kaliurang, sekitar 23 km dari puncak Merapi
makanya waktu Merapi batuk-batuk tahun 2010 ini saya ngga ikut ngabur walau sempet packing. Walau sudah 20 tahun lebih mereguk hidup di Jogja, selalu ada rasa kurang puas dalam diri saya. Sepertinya saya belum menjelajahi hingga ceruk-ceruk terkecil kota ini. Walau tidak tahu seperti apa ‘wajah’ sebenarnya kota Gudeg ini, tapi ada keyakinan bahwa yang tertimbum di dalam sini lebih mengesankan dari apa yang ada di bayangan. Bukan bermaksud mengagung-agungkan kota sendiri, tapi memang inilah perasaan yang sebenar-benarnya. Saking sayangnya saya sama kota ini, sampai saya mikir, apa ya dulu saya pernah ndengerin drumband gaibnya Jogja?
Drumband Gaib.
Mitos ini justru saya dengar kurang dari setahun ini dari seorang teman asal Jakarta. Dia cerita, kalau ada mitos Jogja yang menyebutkan bahwa kalau kita malam-malam mendengar ada suara drumband, padahal drumbandnya ngga ada (biasanya di saat-saat di mana orang ngga mungkin maen drumband, seperti subuh atau malam), biasanya orang tersebut tidak bisa ‘lepas’ dari Jogja. Istilah lainnya ya… bakal tinggal di kota ini bigitchu. Entah mungkin dia dapat kerjaan di Jogja atau dapet jodoh orang Jogja, pokoknya bakal tinggaaall… gitu aja di Jogja. Ya namanya mitos, bisa bener bisa nggak :3 tergantung yang ndenger percaya ato nda. Waktu saya nyoba searching di Internet, memang ada mitos semacam ini dan herannya begitu populer di kalangan orang-orang perantauan. Salah satu mitos yang lain adalah : kalau masih dalam masa kuliah, jangan foto-foto di depan UGM, nanti ngga lulus-lulus. Hahahaha… pantesan sampe sekarang saya ngga lulus-lulus juga *carialesan*.
Kembali ke perihal drumband, ada banyak pendapat yang berseliweran tentang hal ini. Dulu waktu kecil, saya juga pernah dengar suara-suara drumband dari arah lapangan STM dekat saya tinggal. Namanya anak kecil, suara drumband ya dikira ada yang maen, dan saya cuek-cuek aja waktu itu. Baru tahu kalau itu bukan suara drumband ‘beneran’ pas udah gede. Ada yang bilang, jika yang terdengar suara gamelan, itu dulunya pertanda kalau perang mataram mau dimulai dan kalau yang bersuara drum band berarti penghormatan untuk prajurit yang sudah gugur. Ketika dewasa ini saya udah nggak pernah denger lagi. Ada sih suara drum band, tapi yang maen anak-anak dari SD sebrang kali. kadang saya kangen dengernya, lol.
Yang membuat saya kerasan di sini mungkin karena kota ini seperti kotak harta karun yang ngga akan pernah habis digali. Warisan seni budaya yang kian lama semakin hilang, bunyi gamelan yang lama tak terdengar, batik yang semakin komersial, pasar yang dihiasi rolling door, museum yang semakin tak terlihat… mungkin suatu saat saya akan berkonsentrasi dalam menjelajah kota ini dan membongkar harta karunnya